MAKALAH
FARMAKOLOGI
“GOLONGAN ANTIBIOTIK”
Dosen Pengampu : Indrawati
Kurnia Setyani, S.Farm,Apt
Disusun
Oleh:
Kelompok
2
Serly Anjelina (16140175)
Andini
Maulidya (16140163)
Eka
Putri Ayu (16140198)
Desiani
Puteri Darwanti (16140197)
Notin Lolita (16140148)
UNIVERSITAS
RESPATI YOGYAKARTA
FAKULTAS ILMU
KESEHATAN
PRODI D4 BIDAN
PENDIDIK
2016/2017
KATA
PENGANTAR.......................................................................................................................... .
i
DAFTAR ISI ......................................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................................
1
1.2 Rumusan
Masalah............................................................................................................................ .1
1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................................................................. .2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian......................................................................................................................................... .3
2.2 Pembuatan Antibiotika …………………........................................................................................ .3
2.3 Mekanisme Kerja ............................................................................................................................. .3
2.4 Golongan Obat Antibiotika............................................................................................................... .4
2.4.1 Penisilin .................................................................................................................................. 4
2.4.2 Sefalosforin ............................................................................................................................ 5
2.4.3 Tetrasiklin ............................................................................................................................... 6
2.4.4 Aminoglikosida ...................................................................................................................... 7
2.4.5 Kloramfenikol ........................................................................................................................ 8
2.4.6 Makrolid ................................................................................................................................. 8
2.4.7 Polipeptida..............................................................................................................................
8
2.4.8 Golongan Antimikrobakterium...............................................................................................
9
2.5 Pemilihan antibiotik yang aman bagi ibu hamil................................................................................
9
2.6 Pengaruh obat pada janin ................................................................................................................. 10
2.7 Studi kasus infeksi pada ibu hamil................................................................................................... 12
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan...................................................................................................................................... 14
|
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan baik. Makalah ini membahas tentang “Golongan Antibiotik” agar mahasiswa dapat memahaminya.
Kami mengucapkan terima
kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Asuhan Kebidanan yang telah membimbing kami dalam
penyusunan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna,
oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi
perbaikan pembuatan makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan
yang lebih luas kepada pembaca. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan kelancaran dan kemudahan bagi
kita semua.
Yogyakarta,
2 Februari 2017
Kelompok
Dua
|
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas
cakupannya. Namun unutk seorang dokter ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar
dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan
penyakit. Selain agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan
berbagai gejala penyakit.
Antiboitika ialah zat yang dihasilkan oleh mikroba
terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis
lain. Antibiotik juga dapar dibuat secara sintesis. Antimikroba diartikan
sebagai obat pembasmi mikroba khususnya yang merugikan manusia.
Selama masa
kehamilan, ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak terpisahkan. Apa yang
dikonsumsi oleh ibu akan ditransfer ke janin. Ada kalanya, ibu hamil yang
mengalami infeksi memerlukan penggunaan antibiotik sebagai pilihan obat.
Sebagian antibiotik pada semua fase kehamilan aman dikonsumsi, sebagian lagi
dikontraindikasikan pada fase tertentu, dan ada juga yang dikontraindikasikan
untuk semua fase kehamilan.
Beberapa
jenis antibiotika dapat menyebabkan kelainan pada janin. Hal ini terjadi karena
antibiotika yang diberikan kepada wanita hamil dapat mempengaruhi janin yang
dikandungnya melalui plasenta.
Besarnya
reaksi toksik atau kelainan yang ditimbulkan oleh antibiotika dipengaruhi oleh
besarnya dosis yang diberikan, lama dan saat pemberian serta sifat genetik ibu
dan janin.
1.2 Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang dibahas dalam makalah ini,
diantaranya :
1. Apa yang dimaksud dengan
Antibiotik?
2. Bagaimana cara pembuatan
Anti biotik?
3. Bagaimana mekanisme kerja
dari obat antibiotik?
4. Apa saja golongan-golongan obat antibiotic?
5. Apa saja antibiotik yang aman bagi ibu hamil?
6. Bagaimanakah efek antibiotik pada kehamilan?
7.Bagaimana studi kasus infeksi pada ibu hamil?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan kami membuat makalh ini adalah :
1. Untuk
mengetahui dan memahami tentang golongan obat antibiotic.
2. Untuk mengetahui tentang cara
pembuatan obat antibotic, mekanisme kerja dan golongan-golonganya.
3. Untuk mengetahui dan memahami pemberian obat
antibiotik yang aman bagi ibu hamil dan mengetahui efek antibiotik pada kehamilan.
4. Untuk
memenuhi tugas mata kuliah farmakologi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Antibiotika ialah zat yang dihasilkan oleh mikroba
terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi jenis mikroba
lain. Antibiotika ( latin : anti = lawan, bios = hidup ) adalah zat-zat kimia
yang dihasilkan mikroorganisme hidup tertuma fungi dan bakteri ranah. Yang memiliki khasiat mematikan atau mengahambat pertumbuahn banyak
bakteri dan beberapa virus besar, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relative
kecil.
2.2 Pembuatan Antibiotika
Pembuatan antibiotika lazimnya dilakukan dengan jalan
mikrobiologi dimana mikroorganisme dikembangbiakkan dalam tangki-tangki besar
dengan zat-zat gizi khusus. Kedalam cairan pembiakan disalurkan oksigen atau
udara steril guna mempercepat pertumbuhan jamur sehingga produksi antibiotiknya
dipertinggi setelah diisolasi dari cairan kultur, antibiotika dimurnikan dan
ditetapkan aktifitasnya, beberapa antibiotika tidak
dibuat lagi dengan jalan biosintesis ini, melakukan secara kimiawi, antara lain
kloramfenikol
Aktivitas Umumnya dinyatakan dalam suatu berat
(mg),kecuali zat yang belum sempurna pemurniannya dan terdiri dari campuran
beberapa zat misalnya polimiksin B basitrasin, atau karena belum diketahui
struktur kimianya, seperti, nistatin.
2.3 Mekanisme Kerja
Beberapa antibiotika bekerja terhadap dinding sel
(penisilin dan sefalosforin) atau membran sel (kleompok polimiksin), tetapi
mekanisma kerja yang terpenting adalah perintangan selektif metabolisme protein
bakteri sehingga sintesis protein bakteri, sehingga sintesis protein dapat
terhambat dan kuman musnah atau tidak berkembang lagi misalnya kloramfenikol
dan tetrasiklin.
Diluar bidang terapi, antibiotik digunakan dibidang
peternakan sebagai zat gizi tambahan guna mempercepat pertumbuhan ternak, dan
unggas yang diberi penisilin, tetrasiklin erithomisin atau basitrasin dalam
jumlah kecil sekali dalam sehari harinya, bertumbuh lebih besar dengan jumlah
makanan lebih sedikit.
2.4 Golongan Obat Antibiotika
2.4.1 Penisilin
Penisilin diperoleh dari jamur Penicilium chrysogeneum
dari bermacam-macam jemis yang dihasilkan (hanya berbeda mengenai gugusan
samping R ) benzilpenisilin ternyata paling aktif. Sefalosforin diperoleh dari
jamur cephalorium acremonium, berasl dari sicilia (1943) penisilin bersifat
bakterisid dan bekerja dengan cara menghambat sintesi dinding sel.Pensilin
terdiri dari :
A. Benzil
Penisilin Dan Fenoksimetil Penisilin
a. Benzil Penisilin
Indikasi : infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis
kronis, salmonelosis invasive, gonore.Kontraindikasi : hipersensitivitas (
alergi ) terhadap penisilin.Efek samping : reaksi alergi berupa urtikaria,
demam, nyeri sendi, angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian
per oral.
b. Fenoksimetilpenisilin
Indikasi : tonsillitis, otitis media, erysipelas, demam rematik,
prpopiliaksisinfeksi pneumokokus.
B. Pensilin Tahan
Penisilinase
a. Kloksasilin
Indikasi : infeksi karena stapilokokus yang memproduksi
pensilinase.Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi
eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan
AIDS.Interaksi : obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan
tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak
mengalami infeksi.Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap
penisilin.Efek samping : reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi,
angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian per oral.
b. Flukoksasilin
Indikasi : infeksi karena stapilokokus yang memproduksi
pensilinase.Peringatan : riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi
eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan
AIDS.Interaksi : obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh.
Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak
mengalami infeksi.Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi ) terhadap
penisilin.Efek samping : reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi,
angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian per oral.
C. Pensilin
Spectrum Luas
a. Ampisilin
Indikasi : infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis
kronis, salmonelosis invasive, gonore.Peringatan : riwayat alergi, gangguan
fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik
kronik, dan AIDS.Interaksi : obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan
cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika
selaput otak mengalami infeksi.Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi )
terhadap penisilin.Efek samping : reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri
sendi, angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian per oral.
b. Amoksisilin
Indikasi : infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis
kronis, salmonelosis invasive, gonore.Peringatan : riwayat alergi, gangguan
fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik
kronik, dan AIDS.Interaksi : obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan
cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika
selaput otak mengalami infeksi.Kontraindikasi : hipersensitivitas ( alergi )
terhadap penisilin.Efek samping : reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri
sendi, angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian per oral.
D. Penisilin
Anti Pseudomona
a. Tikarsilin
Indikasi : infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas dan proteus.
b. Piperasilin
Indikasi : infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
c. Sulbenisilin
Indikasi : infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa. ( Lihat gambar 1.1 )
2.4.2
Sefalosforin
Sefalosforin merupakan antibiotic betalaktam yang
bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding mikroba. Farmakologi
sefalosforin mirip dengan penisilin, ekseresi terutama melalui ginjal dan dapat
di hambat probenisid.Sefalosforin terbagi atas:
A. Sefadroksil
Indikasi : infeksi baktri gram (+) dan (-)Interaksi :
sefalosforin aktif terhadap kuman garm (+) dan (-) tetapi spectrum anti mikroba
masing-masng derrivat bervariasi. Efek samping : diare dan
colitis yang disebabkan oleh antibiotic ( penggunaan dosis tinggi) mual dan
mumtah rasa tidak enak pada saluran cerna sakit kepala dll. Kontra indikasi : hipersensitivitas terahadap
sefalosforin, porfiria. ( Lihat gambar 1.2 )
B.
Sefrozil
Indikasi : ISPA, eksaserbasi akut dari bronchitis kronik dan otitis media.
C. Sefotakzim
Indikasi : profilaksis pada pembedahan, epiglotitis karena hemofilus,
meningitis.
D.
Sefuroksim
Indikasi : profilaksis tindakan bedah,lebih aktif terhadap H. influenzae
dan N gonorrhoeae.
E.
Sefamandol
Indikasi: profilaksis pada Tindakan 1 pembedahan.
F.
Sefpodoksim
Indikasi: infeksi saluran napas tetapi. Penggunaan ada faringitis dan
tonsillitis, hanya yang kambuhan, infeksi kronis atau resisten terhadap
antbiotika lain.
2.4.3 Tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan antibiotik dengan spectrum luas. Penggunaannya
semakin lama semakin berkurang karena masalah resistansi.
A. Tetrasiklin.
Indikasi: eksaserbasi bronkitri kronis, bruselosis (lihat juga keterangan
diatas) klamidia, mikoplasma, dan riketsia, efusi pleura karena keganasan atau
sirosis, akne vulganis.Peringatan: gangguan fungsi hati (hindari pemberian
secara i.v), gangguan fungsi ginjal, kadang-kadang menimbulkan
fotosintesis.Efek samping: mual, muntah, diare, eritema.(Lihat gambar 1.3 )
B. Demeklosiklin
Hidroklorida
Indikasi: tetrasiklin. Lihat jugas gangguan sekresi hormone
antidiureticPerhatinak : kontaindikasi; efek samping lihat tetrasiklin.
Fotositivtas lebih sering terjadi pernah dilaporkan terjadinya diabeters
indipidus nefrogenik.
C. Doksisiklin
Indikasi:
tetrasiklin.bruselosis (kombniasi dengan tetrasiklin), sinusitis kronis ,
pretatitis kronis, penyakit radang perlvis (bersama metronidazo)
D. Oksitetrasiklin
Indikasi ; peringatan;
kontaindikasi; efek samping; lihat tetrasilin; hindari pada porfiria.
Dosis: 250-500 mg tiap 6 jam, Oxytetracycline ( generic ) cairan Inj. 50 mg/ vial
(K), Teramycin (Pfizer Indonesia) cairan inj. 50 mg/ vial.
Kapsul 2
2.4.4.
Aminoglikosida
Aminoglokosida bersifat bakterisidal dan aktif
terhadap bakteri gram posistif dan gram negative. Aminasin, gentamisin dan
tobramisin d juga aktif terhadap pseudomonas aeruginosa. Streptomisin aktif
teradap mycobacterium tuberculosis dan penggunaannya sekarang hamper terbatas
untuk tuberkalosa.( Lihat gambar 1.4 )
A. Amikasin
Indikasi : infeksi generatif
yang resisten terhadap gentamisin.
B.
Gentamisin
Indikasi : septicemia dan sepsis pada neonatus, meningitis dan infeksi SSP
lainnya. Infeksi bilier, pielonefritis dan prostates akut, endokarditis karena
Str viridans. Atau str farcalis (bersama penisilin, pneumonia nosokomial,
terapi tambahan pad meningitis karena listeria.Peringatan : gangguan funsi
ginjal, bayi dan usia lanjut ( (sesuaikan dosso, awasi fungsi ginjal,
pendengaran dan vestibuler dan periksa kadar plasma), hindari penggunaan jangka
panjang.Kontraindikasi: kehamilan, miastenia gravis.Efek samping : gangguna
vestibuler dan pendengaran, netrotoksista, hipomagnesemia pada pemberian jangka
panjang colitis karena antibiotic.Dosis : injeksi intramuskuler, intravena
lambat atau infuse, 2-5 mg/ kg/ hari ( dalam dosis terbagai tiap 8 jam) lihat
juga keterangan diatas sesuaikan dosis terbagi tiap 8 jam ) lihat juga
keterangan fungsi ginjal dan ukur kadar dalam plasma.
C. Neomisin
Sulfat
Indikasi: Sterilisasi usus sebelum operasi
D.
Netilmisin
Indikasi: infeksi berat kuman gram negative yang resisten terhadap
gentainisin.
2.4.5.
Kloramfenikol
Kloramfenikol merupakan antibiotic dengan spectrum
luas, namun bersifat toksik. Obat ini seyogyanya dicadangkan untuk infeksi
berat akibat haemophilus influenzae, deman tifoid, meningitis dan abses otak,
bakteremia dan infeksi berat lainnya. Karena toksisitasnya, obat ini tidak
cocok untuk penggunaan sistemik.
Kontraindikasi: wanita hamil, penyusui dan pasien
porfiria. Efeks samping : kelainan darah yang reversible dan
irevesibel seperti anemia anemia aplastik ( dapat berlanjut mejadi leukemia),
neuritis perifer, neuritis optic, eritem multiforme, mual, muntah, diare,
stomatitis, glositits, hemoglobinuria nocturnal.( Lihat gambar 1.5 )
2.4.6. Makrolid
Eritromisin memiliki spectrum antibakteri yang hamper
sama dengan penisilin, sehingga obat ini digunakan sebagai alternative
penisilin. Indikasi eritremisin mencakup indikasi saluran napas, pertusis,
penyakit gionnaire dan enteritis karena kampilo bakteri.
A. Eritromisin
Indikasi: sebagai alternative untuk pasien yang alergi penisilin untuk
pengobatan enteritis kampilobakter, pneumonia, penyakit legionaire, sifilis,
uretritis non gonokokus, protatitis kronik, akne vulgaris, dan rpofilaksis
difetri dan pertusis.
B. Azitromisin
Indikasi: infeksi saluran napas, otitis media, infeksi klamida daerah
genital tanpa kompliasi.
C. Klaritromisin
Indikasi : infeksi saluran napas, infeksi ringan dan sedang pada kulit dan
jaringan lunak; terapi tambahan untuk eradikasi helicobacter pylori pada tukak
duodenum.
2.4.7.
Polipeptida
Kelompok ini terdiri dari polimiksin B, polimiksin E
(= kolistin), basi-trasin dan gramisidin, dan berciri struktur polipeptida
siklis dengan gugusan-gugusan amino bebas. Berlainan dengan antibiotika lainnya
yang semuanya diperoleh dari jamur, antibiotika ini dihasilkan oleh beberapa
bakteri tanah. Polimiksin hanya aktif terhadap basil Gram-negatif termasuk
Pseudomonas, basitrasin dan gramisidin terhadap kuman Gram-positif.
Khasiatnya berupa bakterisid berdasarkan aktivitas
permukaannya (surface-active agent) dan kemampuannya untuk melekatkan diri pada
membran sel bakteri, sehingga permeabilitas sel diperbesar dan akhirnya sel
meletus. Kerjanya tidak tergantung pada keadaan membelah tidaknya bakteri, maka
dapat dikombinasi dengan antibiotika bakteriostatik seperti kloramfenikol dan
tetrasiklin.
Resorpsinya dari usus praktis nihil, maka hanya
digunakan secara parenteral, atau oral untuk bekerja di dalam usus. Distribusi
obat setelah" injeksi tidak merata, ekskresinya lewat ginjal.Antibiotika
ini sangat toksis bagi ginjal, polimiksin juga untuk organ pendengar. Maka
penggunaannya pada infeksi dengan Pseu¬domonas kini sangat berkurang dengan
munculnya antibiotika yang lebih aman (gentamisin dan karbenisilin).
2.4.8.
Golongan Antimikobakterium
Golongan antibiotika dan kemoterapetka ini aktif te
rhadap kuman mikobakterium. Termasuk di sini adalah obat-obat anti TBC dan
lepra, misalnya rifampisin, streptomisin, INH, dapson, etambutol dan lain-lain.
2.5 Pemilihan
Antibiotik yang Aman Bagi Ibu Hamil
Antibiotika banyak digunakan
secara luas pada kehamilan. Karena adanya efek samping yang potensial bagi ibu
maupun janinnya, penggunaan antibiotika seharusnya digunakan jika terdapat
indikasi yang jelas. Prinsip utama pengobatan wanita hamil dengan penyakit
adalah dengan memikirkan pengobatan apakah yang tepat jika wanita tersebut
tidak dalam keadaan hamil. Biasanya terdapat berbagai macam pilihan, dan untuk
alasan inilah prinsip yang kedua adalah mengevaluasi keamanan obat bagi ibu dan
janinnya.
Kehamilan akan mempengaruhi
pemilihan antibiotik. Umumnya penisilin dan sefalosporin dianggap
sebagai preparat pilihan pertama pada kehamilan, karena pemberian sebagian
besar antibiotik lainnya berkaitan dengan peningkatan resiko malformasi pada
janin. Bagi beberapa obat antibiotik, seperti eritromisin, risiko tersebut
rendah dan kadang-kadang setiap risiko pada janin harus dipertimbangkan
terhadap keseriusan infeksi pada ibu. Beberapa jenis antibiotika dapat
menyebabkan kelainan pada janin. Hal ini terjadi karena antibiotika yang
diberikan kepada wanita hamil dapat mempengaruhi janin yang dikandungnya
melalui plasenta. Antibiotika yang demikian itu disebut teratogen suatu obat
atau zat yang menyebabkan pertumbuhan janin yang abnormal. Pada manusia,
periode terjadinya teratogenesis adalah mulai hari ke 17 sampai hari ke 54 post
konsepsi. Besarnya reaksi toksik atau kelainan yang ditimbulkan oleh
antibiotika dipengaruhi oleh :
|
4.
5
|
1. Besarnya dosis yang
diberikan.
2. Lama dan saat
pemberian.
3. Sifat genetik ibu dan
janin.
4.
Jenis antibiotic
5. Trimester kehamilan
Durasi penggunaan obat
merupakan faktor penting untuk diingat. Penggunaan antibiotik dalam jangka
waktu lama bisa menyebabkan kecacatan pada janin dan dalam kasus yang lebih
buruk bisa menyebabkan keguguran. Pasalnya, beberapa jenis antibiotik lebih
aman digunakan pada trimester tertentu.
Untuk keadaan hamil, apalagi
masih dalam trimester ketiga, pemberian antibiotik bisa sangat membahayakan
janin, karena hampir semua antibiotik memberikan efek samping mual, muntah,
pusing dan gangguan sistem pencernaan. Efek-efek samping yang ditimbulkan juga
akan menekan kehamilan. Bahkan ada antibiotik yang bisa menembus sampai ke
sistem kelenjar / cairan, seperti liur, kelenjar getah bening, cairan otak dan
ASI. Jika pada masa menyusui minum antibiotik, maka obat akan merembes di ASI
dan bayi akan minum ASI bercampur obat.
Namun bukan berarti ibu hamil
dan menyusui tidak boleh minum obat antibiotik, harus hati-hati dan perhatikan
petunjuk dokter tentang cara pemakaiannya.
Penisilin merupakan
obat-obatan yang paling umum digunakan selama kehamilan. Antibiotik ini
dipasarkan dengan beberapa nama seperti cephradine, cefalexin, cefuroxime,
cefaclor, dan lain-lain. Obat yang umum digunakan ini mengandung cloxacillin,
amxycillin, dan methicillin. Obat-obatan ini dinyatakan aman selama kehamilan.
Beberapa
contoh antibiotik yang aman pada kehamilan :
1. Amoxicillin
2. Ampicillin
3. Clindamycin
4. Erythromycin
5. Penicillin
2.6. Pengaruh
Obat pada Janin
Pengaruh buruk obat terhadap
janin dapat bersifat toksik, teratogenik maupun letal, tergantung pada sifat
obat dan umur kehamilan pada saat minum obat. Pengaruh toksik adalah jika obat
yang diminum selama masa kehamilan menyebabkan terjadinya gangguan fisiologik
atau biokimiawi dari janin yang dikandung, dan biasanya gejalanya baru muncul
beberapa saat setelah kelahiran. Pengaruh obat bersifat teratogenik jika
menyebabkan terjadinya malformasi anatomik pada petumbuhan organ janin.
Pengaruh teratogenik ini biasanya terjadi pada dosis subletal. Sedangkan
pengaruh obat yang bersifa letal, adalah yang mengakibatkan kematian janin
dalam kandungan. Secara umum pengaruh buruk obat pada janin dapat beragam,
sesuai dengan fase-fase berikut :
1. Fase implantasi, yaitu pada umur kehamilan kurang dari
3 minggu. Pada fase ini obat dapat memberi pengaruh buruk atau mungkin tidak
sama sekali. Jika terjadi pengaruh buruk biasanya menyebabkan kematian embrio
atau berakhirnya kehamilan (abortus).
2. Fase embional atau organogenesis, yaitu pada umur
kehamilan antara 4-8 minggu. Pada fase ini terjadi diferensiasi pertumbuhan
untuk terjadinya malformasi anatomik (pengaruh teratogenik). Berbagai pengaruh
buruk yang mungkin terjadi pada fase ini antara lain :
a. Gangguan fungsional atau metabolik yang permanen yang
biasanya baru muncul kemudian, jadi tidak timbulsecara langsung pada saat
kehamilan. Misalnya pemakaian hormon dietilstilbestrol pada trimester pertama
kehamilan terbukti berkaitan dengan terjadinya adenokarsinoma vagina pada anak
perempuan di kemudian hari (pada saat mereka sudah dewasa).
b. Pengaruh letal, berupa kematian janin atau terjadinya
abortus.
c. Pengaruh subletal, yang biasanya dalam bentuk malformasi
anatomis pertumbuhan organ, seperti misalnya fokolemia karena talidomid.
3. Fase fetal, yaitu pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Dalam fase ini
terjadi maturasi dan pertumbuhan lebih lanjut dari janin. Pengaruh buruk
senyawa asing terhadap janin pada fase ini tidak berupa malformasi anatomik
lagi. tetapi mungkin dapat berupa gangguan pertumbuhan, baik terhadap
fungsi-fungsi fisiologik atau biokimiawi organ-organ. Demikian pula pengaruh
obat yang dialami ibu dapat pula dialami janin, meskipun mungkin dalam derajat
yang berbeda. Sebagai contoh adalah terjadinya depresi pernafasan neonatus
karena selama masa akhir kehamilan, ibu mengkonsumsi obat-obat seperti
analgetika-narkotik; atau terjadinya efek samping pada sistem ekstrapiramidal
setelah pemakaian fenotiazin.
2.7. Studi Kasus Infeksi pada Ibu Hamil
Studi terkini
menyebutkan bahwa pemakaian antibiotik untuk mengatasi infeksi saluran kemih
pada ibu hamil akan meningkatkan risiko anak cacat lahir. Peneliti menemukan
fakta cacat lahir itu pada dua jenis antibiotik, yaitu sulfonamide (contoh:
Bactrim) dan nitrofurantoins (contoh: Macrobid). Sementara itu, antibiotik
penicillins dan erythromycins, yang banyak diresepkan untuk ibu hamil selama
ini tergolong aman.
Infeksi merupakan
penyebab utama kematian prematur pada bayi. Meskipun terapi profilaksis
antibiotik belum terbukti bermanfaat, pemberian obat-obat antibiotik kepada ibu
hamil dengan ketuban pecah dini dapat memperlambat kelahiran dan menurunkan
insidens infeksi. Penggunaan antibiotik yang diketahui tidak aman itu harus
menjadi perhatian para tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan untuk
menangani infeksi pada ibu hamil.
Infeksi bakteri sangat
berbahaya pada ibu hamil dan janinnya. Pemakaian antibiotik perlu lebih
diperhatikan, karena studi mengenai pengaruh antibiotik terhadap ibu hamil
belum banyak dilakukan.
Dalam investigasinya,
peneliti menganalisis enam jenis antibiotik pada 13.000 wanita hamil yang
kandungannya terdeteksi cacat dan juga 5.000 wanita hamil yang bebas dari cacat
kandungan. Sebanyak 30 persen wanita dalam grup tersebut mengonsumsi antibiotik
selama kehamilan, terutama pada trimester pertama. Hasilnya ternyata, sebanyak
14% wanita yang melahirkan anak cacat diketahui menggunakan antibiotik beberapa
bulan sebelum kehamilan dan pada trimester pertama.
Antibiotik sulfonamide
terkait dengan enam jenis cacat lahir, sedangkan nitrofurantoins terkait pada
empat jenis cacat. Dua jenis antibiotik ini berisiko paling banyak menghasilkan
cacat lahir dibanding antibiotik lain yang risiko cacat lahirnya hanya 1 jenis.
Cacat lahir itu antara lain ketidak normalan jantung yang dikenal dengan
(hypoplastic left heart syndrome). Penggunaan sulfonamides akan meningkatkan
risiko cacat tersebut hingga 4 kali lipat. Terjadi pada 1 dari 42.000
kelahiran.
Studi ini dimuat dalam
Archives
of Pediatrics & Adolescent Medicine dan diharapkan menjadi
panduan para tenaga kesehatan dan ibu hamil untuk menggunakan antibiotik yang
lebih aman.
Ada kalanya, ibu hamil
yang mengalami infeksi memerlukan penggunaan antibiotik sebagai pilihan obat.
Sebagian antibiotik pada semua fase kehamilan aman dikonsumsi, sebagian lagi
dikontraindikasikan pada fase tertentu, dan ada juga yang dikontraindikasikan
untuk semua fase kehamilan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kemajuan bidang kesehatan diikuti dengan
kemunculan obat-obat antibiotik yang baru menambah tantangan untuk mengusai
terapi medikamentosa ini. Antibiotik tidak hanya dari satu jenis saja. Beberapa
senyawa-senyawa yang berbeda dan berlainan ternyata mempunyai kemampuan dalam
membunuh mikroba.
Penisilin merupakan obat-obatan yang paling
umum digunakan selama kehamilan. Antibiotik ini dipasarkan dengan beberapa nama
seperti cephradine, cefalexin, cefuroxime, cefaclor, dan lain-lain. Obat yang
umum digunakan ini mengandung cloxacillin, amxycillin, dan methicillin.
Obat-obatan ini dinyatakan aman selama kehamilan.
Berikut beberapa contoh antibiotik yang dinyatakan aman digunakan
selama kehamilan:
1) Amoxicillin
2) Ampicillin
3) Clindamycin
4) Erythromycin
5) Penicillin
Berdasarkan indeks keamanan obat pada
kehamilan menurut United States Food and Drug Administration (US FDA),
klasifikasi obat berdasarkan tingkat keamanan penggunaannya selama
kehamilan dibagi dalam lima kategori. Lima kategori tersebut terdiri dari
A, B, C, D, dan X, dengan urutan yang paling aman hingga paling berbahaya.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia . 2006. Pedoman Pelayanan Farmasi Untuk Ibu
Farmakologi dan Terapi,
Edisi 5. 2007. Departemen Farmakologi Dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar